Jumat, 19 Juli 2019

Teknis Budidaya Cabai Teknologi NASA

🌱 Persiapan Media Semai 🌱


Campurkan ± 1-2 pack Natural GLIO dalam ± 25-50 kg pupuk kandang, lalu peram ± 1-2 minggu
sebagai bahan campuran media semai
Komposisi media semai yang akan digunakan terdiri atas tanah, pupuk kandang dan pasir
dengan komposisi sebanding (1:1:1)

🌱 Pembibitan Cabai 🌱
Kebutuhan benih cabe sekitar 10-11 sachet/ha
Lakukan perendaman benih dengan larutan ± 2-4 cc POC NASA /liter air hangat selama ± 2 jam Tiriskan dan peram ± 2-4 hari, benih yang berkecambah segera disemaikan
Semprotkan POC NASA ± 2-4 tutup botol/tangki pada bibit usia 7 dan 14 hss (hari setelah semai)


🌱 Pengolahan lahan dan Pemupukan Dasar 🌱
Taburkan pupuk kandang (± 5-10 ton/ha) dan Dolomit (± 200-300 kg/ha) di lahan Lakukan olah tanah
Buat bedengan (tinggi ± 40 cm dan lebar ± 100 cm) dengan drainase yang cukup
Campurkan SUPERNASA sebanyak 3-6 kg/ha bersama pupuk TSP ± 150 kg/ha) lalu taburkan secara merata di bedengan. Kemudian tebarkan GLIO (yang sudah dicampur pupuk kandang) ke permukaan bedengan (aplikasi ± 1 minggu sebelum tanam)
Tutup bedengan dengan mulsa.


Jumat, 05 Juli 2019

Pestisida Organik

Salah satu pestisida organik adalah pestisida organik BJT (Bawang Jahe Tembakau). Tidak perlu buru-buru bertanya di mana membelinya, Anda sendiri pun bisa membuatnya. Berikut cara membuat pestisida organik BJT :

🍃 Alat dan bahan yang diperlukan :🍃
✔ Tembakau 1 ons
✔ Jahe 1 ons
✔ Bawang putih 1 ons
✔ Air 5 liter
✔ Blender


🍃 Cara Pembuatan : 🍃
  1. Untuk membuat pestisida organik langkah pertama yang Anda lakukan adalah menghaluskan jahe dan bawang putih. 
  2. Campurkan tembakau dalam adonan dan tuangkan semua adonan ke wadah bertutup. Tuangkan air ke dalam wadah, kemudian tutup rapat dan simpan selama 48 jam.
  3. Setelah itu, pestisida dapat langsung digunakan pada tanaman yang terserang hama penyakit.
  4. Aplikasikan pestisida pada saat sore hari, encerkan 1 liter pestisida organik untuk 15-20 liter air. 
  5. Lakukan secara berkala setiap minggunya hingga tanaman terhindar dari hama dan penyakit. Jika tanaman terserang hama yang cukup parah, Anda dapat memberikan pestisida organik setiap 2—3 hari sekali.
Sumber : grup wa agrokomplek nasa 11

Senin, 01 Juli 2019

Silase

Silase adalah salah satu teknik pengawetan pakan hijauan. Silase umumnya dibuat dari tanaman rerumputan (dari suku Gramineae), termasuk juga jagung, sorghum, dan serealialainnya dengan memanfaatkan seluruh bagian tanaman, tidak hanya biji-bijiannya. Silase juga bisa dibuat dari hijauan kelapa sawit, singkong, padi, rami, dan limbah pasar. Silase dapat dibuat

dengan menempatkan potongan hijauan di dalam silo, menumpuknya dengan ditutup plastik, atau dengan membungkusnya membentuk gulungan besar (bale). 

Cara pembuatan Silase
  1. Hijauan dipotong-potong dengan ukuran 5-10 cm.
  2. Siapkan adonan untuk fermentasi, yaitu air ditambah dedak atau bekatul, tetes tebu, gaplek dan starter bakteri yang bisa menggunakan TANGGUH PROBIOTIK NASA dengan dosis 2 tutup untuk 100 kg bahan pakan. Aduk adonan ini secara merata.
  3. Campurkan adonan tadi dengan hijauan yang sudah dicacah secara merata hingga seluruh bagian hijauan terkena larutan adonan.
  4. Simpan hijauan yang sudah tercampur dengan adonan dalam wadah yang tertutup rapat hingga udara tidak bisa kelua masuk.
  5. Penyimpanan dilakukan selama 1 minggu hingga 21 hari.
  6. Setalah proses fermentasi selesai pakan dibuka dan dicek hasilnya. Apabila proses berhasil yang ditandai dengan pakan berbau asam dan tidak adanya jamur maka pakan sudah bisa diberikan. Sisa pakan yang belum habis bisa diberikan sesuai kebutuhan ternak.

Manfaat Silase


  • Selama fermentasi, bakteri yang berperan di dalamnya bekerja pada kandungan selulosa dan karbohidrat pada pakan untuk menghasilkan asam lemak volatil seperti asam asetat, propionat, laktat, dan butirat. Keberadaan asam lemak menurunkan pH sehingga menciptakan lingkungan di mana bakteri perusak tidak bisa hidup. Sehingga asam lemak volatil berperan sebagai pengawet alami. Pengawetan ini merupakan hal yang penting dilakukan ketika pakan hijauan tidak tersedia di musim dingin.
  • Ketika melalui proses fermentasi, selulosa dari hijauan pecah sehingga ketika dimakan oleh hewan ternak, jalur pencernaan pada perut ruminansia menjadi lebih singkat sehingga mempercepat penyerapan nutrisi.
  • Beberapa organisme pelaku fermentasi memproduksi vitamin, seperti lactobacillus yang menghasilkan asam folat dan vitamin B12.
  • Silase dapat ditambah dengan berbagai bahan seperti bekatul selama proses pembuatannya, untuk menambah nutrisi dan memperbaiki karakteristik fisik dan kimiawi silase.
  • Fermentasi menghasilkan panas, karena energi kimia dari pakan hijauan digunakan oleh bakteri untuk melakukan fermentasi. Sehingga kandungan energi silase umumnya lebih rendah daripada hijauan. Namun kekurangan ini dapat diabaikan mengingat begitu banyaknya manfaat silase. Selain itu, dengan pecahnya selulosa, energi yang digunakan hewan ruminansia untuk mencerna silase menjadi lebih sedikit.